JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Berita Eksternal Recent Update

Bangkitkan Sejarah Lewat Roman

Jurnalikanews – Nama Tan Malaka mungkin masih kurang tenar dibandingkan Hatta maupun Sjahrir atau masih sangsi dikalangan banyak orang karena doktrin orde baru dikenal orba yang mengharamkan komunis. Tetapi sebagai bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, kita mesti mengenal tokoh yang satu ini lebih dekat. Sebagai pencetus  konsep negara republik, sudah sepatutnya kita memberikannya sebuah prasasti kehormatan setidaknya di dalam sanubari kita. 

Adalah Hendri Teja pengarang novel “Tan : Sebuah Novel” sekaligus narasumber di acara bedah buku yang diselenggarakan oleh para pegiat literasi di Bogor. Berlokasi di Warung Hitz Jalan Padjajaran para hadirin disuguhkan acara bedah buku yang santai dengan konsep ngopi buku. Selain itu, Adi WKF seorang pengamat buku juga turut hadir sebagai narasumber. Menurut Limanov salah satu pemrakarsa kegiatan bersama para pegiat literasi lainnya, Ia rutin mengadakan diskusi ini“paling tidak satu bulan sekali.” Tuturnya disela-sela acara tersebut. Selain itu ia juga menambahkan bahwa buku yang di diskusikan biasanya berbau sastra“macam novel Pramoedya lah” ujarnya.

Lalu mengapa buku yang di bedah adalah tentang Tan Malaka? Hendri Teja sang pengarang bercerita tentang pentingnya tokoh ini bagi bangsa Indonesia. Hanya saja pemburaman sejarah yang dilakukan rezim Soeharto membuat nama Tan hilang dari buku-buku sejarah di bangku sekolahan. “Sejarah itu milik penguasa tapi masalah selagi dia masih dapat diingat didalam benak anak manusia” katanya. Akibat kepentingan-kepentingan doktrin orba menjadi stigma yang sudah lekat tertanam di masyarakat awam agar menjadi sangsi mendengar kata kiri.

Bagi Hendri, bukan perkara kiri atau kanan, tetapi Tan mempunyai karisma besar layaknya tokoh-tokoh seperti Che Guevara, Soekarno, dsb. Soal ideologi itu adalah pilihan lagi pula setiap negara punya corak tersendiri. “Dia juga seorang islamis, kita lihat Tan Malaka mencoba mensinergikan ajaran islam sebagai agama pembebasan dengan ideologi kiri” tuturnya. Kenapa dibuat novel? agar para pembaca pemula mau dan tertarik membaca novel bergenre novel sejarah ini. “Anak muda kan senang bila ceritanya dibumbui percintaan” ujarnya sambil tertawa saat wawancara. (Dj)

(24/10/16)

Tinggalkan Balasan