JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Recent Update

Nasib Sang Bajaj Konvensional yang Hampir Punah

 

Jurnalikanews- sebagai ‘taksi’ tiga roda dari India, bajaj dikenal sebagai kendaraan dengan mesin bandel dan tahan lama karena basis modelnya adalah Piaggio Ape dari Italia yang terkenal ketahanannya. Nah, bajaj dipilih sebagai pengganti becak, karena keunggulannya mengangkut barang dan dapat ‘blusukan’. Sekarang, posisi bajaj merah tiga roda mulai tergeserkan dengan keberadaan bajaj biru berbahan bakar gas.

Transportasi unik yang identik menghiasi ibukota yang terkadang keberadaannya disukai oleh wisatawan ini mengalami pasang surut dan bahkan bisa saja suatu saat akan punah keberadaannya. Saat ini, jalan-jalan protokol umumnya dilarang dilintasi oleh bajaj, sehingga kendaraan roda tiga ini hanya dapat ditemukan di daerah pinggiran atau di sekitar pemukiman penduduk. Kendaraan yang “lucu” ini paling sering dapat kita jumpai ada di bagian utara dan selatan ibukota. Di sana, bajaj seolah sebagai salah satu alat transportasi yang diutamakan oleh warga. 

img-20161011-wa0001

Angkutan masyarakat ini pada dasarnya adalah sebuah vespa tua yang dimodifikasi menjadi sebuah mobil mini dengan tiga roda. Penumpang duduk di belakang pengemudi, dengan kapasitas dua orang (normalnya). Keuntungan menggunakannya adalah tarif yang murah, cepat dan tentu saja terhindar dari panas dan tertutup dari hujan. Selain itu, karena bodinya yang kecil, bajaj sering menggunakan jalan potong melalui gang sempit demi menghindari kemacetan. Biasanya, masyarakat Jakarta menggunakan bajaj untuk keperluan mobilitas dalam jarak pendek saja. Tarif yang dikenakan oleh supir bajaj bervariasi, kisarannya antara Rp. 5000 hingga Rp. 50.000, tergantung jarak. Memang butuh keahlian menawar terutama bagi yang belum pernah menaikinya.

Kendaraan bajaj seolah makin terpinggirkan di Jakarta, apalagi dengan menjamurnya sarana transportasi online seperti taksi dan ojek. Salah satu kelemahan bajaj adalah belum adanya tarif standar seperti pada taksi atau ojek online. Selain itu, bajaj menghasilkan polusi asap hitam pekat yang mencemari lingkungan. Kondisi persaingan yang ketat dengan moda transportasi online dan modern lainnya inilah yang membuat saya ber-opini bahwa mungkin suatu saat kendaraan ini akan punah dari nusantara. Dan suatu saat bisa saja digunakan hanya untuk kepentingan khusus seperti pawai atau karnaval, bukan lagi sebagai alat transport sehari-hari.  (disadur dari bersosialisasi.com dan Motokars.com). (art/agst)

(10/10/16)