JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel

Sukses Adalah Hak Kita

Jurnalikanews- “Hiduplah seperti air yang mengalir” ungkapan tersebut tak asing terdengar bagi kalian yang tengah dirundung kebimbangan. Bagaimanakah penafsiran kalian terkait ungkapan ini ? tidak ada jawaban yang keliru, sebab setiap orang punya wewenang untuk memaknainya dengan jawaban dari sudut pandang yang berbeda-beda, namun secara moderat bergantung pikiran kita yang mampu menciptakan tindakan, di mana tindakan itu berefek terhadap citra diri. Akan berakibat negatif jika yang melaksanakan menyikapi seolah-olah telah pasrah dalam menghadapi tantangan hidup, mengalun begitu saja seperti aliran air yang hanya mengikuti jalan yang ada, tidak mau berbuat apa-apa, tidak punya arah hidup sendiri, dan serasa hanya sekedar hidup tanpa ada rencana dan tujuan yang jelas.

Berbeda pandangan dari sebelumnya, air yang mengalir ibarat melambangkan sikap konsistensi. Betapapun jauhnya jarak yang dilalui air tidak peduli, dari dataran tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Hingga pada akhirnya sampai ke laut. Untuk menuju ke sana banyak sekali rintangan yang dihadapi. Ketika singgah di sungai tertahan oleh bebatuan, belum lagi persoalan waktu, berapa lamakah ia sampai di laut. Toh akhirnya ia sampai juga di laut. Bukanlah soal seberapa lama kita mencapai keberhasilan dalam hidup, namun yang harus kita tancapkan dalam prinsip hidup ialah kekuatan keyakinan untuk menggapai segala harapan.

Keyakinan tak akan tercipta bila dengan rasa fanatisme. Yakin itu mulai mendarah daging bila diri individu telah melakukan suatu bukti atas usahanya, ialah lahirnya sikap dan tindakan.

Tergapainya harapan mendatangkan ketenangan. Tenang karena kebutuhan telah dipersiapkan, itulah buah dari menejemen diri, yaitu kesuksesan yang hakikinya bukan hanya dunia, melainkan secara ukhrawi menjadi komplementernya.

Mengutamakan kesuksesan di dunia mustahil menjamin kebahagiaan kita kelak di akhirat. Mengejar nikmat dunia lebih banyak mengajak kita kepada kelalaian dalam ketaqwaan, lupa terhadap Allah, karena dalam hari-harinya waktu telah tersita untuk mempertahankan kedudukan, dan seperti rakus terhadap dunia. Bila hati, pikiran, tindakan kita ‘madhep, mantep, dan pakem’ hanya mencari keridhaan Allah, tentu dalam menjalani hidup terasa nikmat, tanpa beban.

Membangun menejemen diri yang baik tidaklah rumit, kunci utamanya hanyalah konsisten terhadap tujuan. Dalam melaksanakannya harus menetapkan skala prioritas, dibarengi dengan pikiran, ucapan, dan tindakan yang berilmu serta beradab. Berilmu, tahu memposisikan diri dalam segala interaksi. Beradab, menjaga hubungan terhadap Allah, dan sesama manusia.

Ferra / C-Yaneda (1C)