JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Berita Eksternal Recent Update

Banjir Bandang Garut Tewaskan Banyak Korban

bbcdotcom-1 Jurnalikanews – Kota Garut terkenal akan makanan khasnya yaitu dodol, namun sepertinya produksi dodol Garut harus berhenti untuk sementara waktu disebabkan oleh bencana yang baru saja menimpa Kota Garut. Banjir bandang yang terjadi pada Selasa (21/09/16) kemarin ternyata berakibat cukup parah dengan banyaknya memakan korban dan menimbulkan kerusakan fasilitas masyarakat Garut. Dilansir dari news.detik.com disampaikan bahwa Komandan Satgas Penanggulangan Bencana sekaligus Dandim 0611 Garut, Letkol Arm Setyo Hani Susanto mengatakan, lokasi penemuan tiga korban tersebut yakni di Kecamatan Selaawi dan Waduk Jatigede. Hingga saat jumlah korban meninggal akibat banjir bandang menjadi 30 orang. “Yang satu (ditemukan) di Selaawi dan dua di Waduk Jatigede,” ujar Setyo di Kodim 0611 Garut, Jawa Barat, pada kemarin Jum’at (23/9/16).

Berdasarkan informasi yang di himpun, satu jenazah yang ditemukan di Selawi bernama Oom (55), warga Kampung Cimacan, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut. Sementara itu dua jenazah lainnya belum dapat diketahui identitasnya. Setyo melanjutkan, masih ada 22 orang yang dinyatakan hilang. Data korban yang hilang pada hari Kamis (22/9/16) kemarin ada 23 orang, namun 3 korban hilang yang telah ditemukan pada hari ini telah cocok dengan jenazah yang menjadi korban banjir bandang.

“Jadi 20 orang yang masih hilang. Cuma pada hari ini kami menerima kembali dua laporan kehilangan dari pihak keluarga, jadi totalnya kembali menambah menjadi 22 orang,” katanya  Terkait dengan penemuan korban di Jatigede, pihaknya akan kembali melakukan analisis untuk memperluas lagi lokasi pencarian. “Penemuan jenazah tersebut hasil dari penyisiran di empat lokasi yakni Lapangan Paris, Kampung Bojong Larang, Kampung Cimacan, dan Kampung Cusurat Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang,” tutupnya.

“Kendalanya adalah luas wilayah karena lokasi kejadiannya ada di beberapa titik berbeda,” kata Kepala Basarnas Bandung Slamet Riyadi di Makodim 0611 Garut, Sabtu (24/9/16). Selain itu ada juga korban yang tertimbun di antara puing-puing bangunan yang runtuh. Saat ini area pencarian korban banjir bandang ditambah ke kawasan Leuwidaun, Tarogong, Kabupaten Garut.

Riyadi menyebut tidak semua lokasi bisa ditempatkan alat berat. Selain tempat yang tidak memungkinkan, akses menuju lokasi pun sangat sempit. “Alat berat ada lima yang dikerahkan di Lapangan Paris. Sisanya pencarian korban yang hilang dilakukan secara manual, karena ada lokasi yang tidak bisa masuk untuk alat berat,” tuturnya. Delapan anjing pelacak (K9) milik Polda Jawa Barat telah diterjunkan untuk mengendus kalau ada korban yang tertimpa reruntuhan.

Banyak spekulasi muncul terkait becana paling besar di kota yang berjuluk Swiss Van Java ini. Rusaknya ekosistem alam di daerah hulu sungai Cimanuk dinilai menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir bandang yang merusak sekitar 594 bangunan terdiri dari sekolah, asrama TNI, rumah sakit, pemukiman, PDAM dan  menghanyutkan 57 bangunan lainnya.

Dilansirnasionaldottempodotco dari mongabay.co.id menurut Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat, Anang Sudarna, memprediksi penyebab banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Garut diakibatkan oleh hulu Sungai Cimanuk yang rusak. Hal itu terbukti dengan tidak lama saat turun hujan, dua sampai tiga jam kemudian Sungai Cimanuk sudah dipastikan akan meluap di Tarogong Kidul. Artinya, tidak ada tahanan air di daerah hulu sungai. “Mestinya ketika hujan turun, kalau vegetasinya benar, air itu akan lama sampai ke sungai,” kata Anang saat ditemui di Kampung Cimacan.

Anang menjelaskan, jika air dari gunung memakan waktu lama untuk sampai ke sungai, artinya hutan lindungnya berfungsi dengan baik. Lanjutnya, berdasarkan citra satelit, terlihat kawasan Gunung Cikurai, Guntur dan Darajat berwarna merah atau sudah berkurang drastis luasan kawasan hutan lindung. Menurut dia, eksploitasi yang terjadi di kawasan konservasi yang dilindungi di Garut menjadi penyebab utama dalam bencana alam kali ini. Eksploitasi lingkungan dilakukan pengembang yang melanggar Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Dia menerangkan, warna merah menunjukan tanah gundul dan bukan vegetasi permanen. Anang menyesalkan kawasan yang diperuntukan sebagai resapan air tanah, kerap digunakan sebagai lahan pertanian, pembangunan kawasan wisata, hingga properti dengan tidak memerhatikan kaidah lingkungan. Dia merekomendasikan kepada Pemerintah Provinsi  Jawa Barat agar bertindak tegas terhadap yang menyalahi aturan. Selain itu diketahui bahwa korban banjir bandang tersebut sudah mulai terkena penyakit, seperti infeksi saliran pernafasan akut (ISPA), saluran pencernaan dan penyakit kulit. Menurut Wakil Bupati Garut Helmi Budiman, penyakit-penyakit yang timbul diakibatkan oleh bau bangkai binatang yang mati terbawa banjir bandang. Selain itu sanitasi lingkungan yang kurang memadai pun turut menjadi salah satu faktor penyebab penyakit.(Morris) (26/9/16)