JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

AKA Hari Ini

Menyorot Kinerja BEM dan DPM

IMG-20160903-WA0006Jurnalikanews- Kampus sebagai lembaga pendidikan mengajarkan banyak hal. Bukan sekedar ilmu-ilmu yang didapat di kelas perkulihan saja, tetapi juga berbagai ilmu bermanfaat dari kegiatan-kegiatan di luar kelas perkuliahan. Di Politeknik AKA Bogor sendiri, mahasiswa juga dapat merasakan hal ini. Badan Eksekutif Mahasiswa –disingkat BEM selalu mengakomodir kebutuhan mahasiswa di segala aspek. Kita lihat bahwa semua mahasiswa menjadi tanggung jawab BEM dalam menjalankan pemerintahannya.  BEM menerima aspirasi mahasiswa dan mengakomodir kebutuhan maupun minat dan bakat mahasiswa lewat event-event atau UKM yang secara struktur organisasi IMAKA dikoordinir oleh BEM.

Namun pada pelaksanaannya, kurang koordinasi menjadi pertanda bahwa BEM tidak punya legitimasi di IMAKA. Fakta di lapangan mengatakan bahwa BEM cenderung sejajar dengan UKM dan cenderung menjadi UKM lewat kinerja yang hanya memfokuskan program kerja saja. Bukan itu saja, respon mahasiswa terhadap BEM juga tidak terlalu berkesan. Berdasarkan hasil kuisioner tentang kinerja BEM di IMAKA yang diprakarsai Jurnalika dengan menggunakan metode penyebaran secara acak, mengatakan bahwa 53,3 % mahasiswa hanya cukup puas dengan kinerja BEM. Hal ini tentunya menggambarkan kesan bahwa mahasiswa terhadap BEM biasa-biasa saja.

Lain halnya dengan tanggapan Pembantu Direktur III bidang kemahasiswaan, Henny Roehaeni yang menilai bahwa kinerja BEM masih cukup baik mengingat program kerja dari BEM masih belum berjalan secara keseluruhan. Ia menambahkan walaupun BEM sempat kecolongan atas insiden ricuhnya pemilihan ketua OKPK periode 2016-2017, namun dapat diatasi dan akhirnya OKPK bisa berjalan dengan cukup baik. Lalu,beliau berharap BEM dapat memberikan kontribusi lebih terhadap mahasiswa Politeknik AKA.  “Kedepannya, BEM diharapkan menjalin kerjasama dengan pihak akademik agar bisa menyelenggarakan kegiatan yang lebih dirasakan mahasiswa” imbuhnya dalam wawancara ekslusif di ruangannya.

Selain itu, beliau juga mendukung mahasiswa dalam mengembangkan minat dan bakatnya di kampus. BEM juga harus mampu memotivasi mahasiswa dibidang seni ataupun olahraga misalnya mencarikan pelatih berkualitas agar dapat membawa harum nama kampus. “harus lebih sering ikut perlombaan dan soal biaya kami bantu” pungkasnya.IMG-20160903-WA0005

Lain halnya BEM yang bertugas sebagai pelaksana dalam segala urusan mahasiswa di kampus, DPM sebagai lembaga legislatif dan yudikatif di Politeknik AKA Bogor bertugas sebagai pelayan mahasiswa dalam bentuk saran, kritik, keluhan mahasiswa, penyusun anggaran, hingga pengesahan AD/ART. Menurut Pembantu Direktur III bidang kemahasiswa, Henny Roehaeni kinerja DPM sudah cukup baik dan selalu  mengakomodir UKM dan BEM dalam soal anggaran.

Tetapi, menurut mahasiswa tidak demikian. DPM cenderung dikenal sebagai pengatur anggaran UKM dan BEM saja, soal pelayanan aspirasi mahasiswa banyak yang kecewa. Dari hasil kuisioner tentang kinerja DPM yang diambil secara acak dan dibagikan ke mahasiswa Politeknik AKA Bogor, sekitar 33% mahasiswa tidak puas akan kinerja DPM. 46,67% mahasiswa lainnya cukup puas, dengan banyaknya komentar miring tentang DPM yang kinerja tidak terasa oleh mahasiswa secara umum.

DPM juga sering blunder akan menyikapi permasalahan-permasalahan yang terjadi IMAKA, tidak tegas menjadi penyebab utamanya. Hal ini menyebabkan stigma negatif mahasiswa AKA akan kinerja DPM yang seperti mitos bernafas, tidak terasa namun ada. (dj) (2/9/16)