JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Berita

Toleransi di Tanah Anarki

jurnalika-news.com  Toleransi merupakan sifat atau sikap toleran. Secara umum toleransi adalah istilah dalam konteks sosial,budaya, dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat (Wikipedia). Dan menurut hipotesa saya toleransi adalah upaya suatu bangsa yang majemuk dan plural untuk menjaga perdamaian dan saling menghormati satu sama lain agar terciptanya suatu tatanan masyarakat yang bisa hidup berdampingan.
Di negara ini kata toleransi mungkin adalah kata yang paling sering terucap dari mulut tiap anak manusia di bumi Indonesia. Wajar saja karena memang Indonesia sendiri terbentuk dari toleransi, ya toleransi yang menghancurkan dinding pembatas yang bernama perbedaan. Bhineka Tunggal Ika merupakan slogan pragmatis dan egaliter untuk merusak dinding-dinding pembatas itu. Hingga terciptalah sebuah negara republik demokratis yang dibangun lewat dialektika antar semua komponen yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda termasuk agama dan ras.
Berbagai insiden SARA bukan hal asing di Indonesia, yang terbaru terjadi di tanah Sumatera, tepatnya di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Kerusuhan yang menyebabkan beberapa bangunan tempat ibadah (vihara dan klenteng) dirusak mencoreng kerukunan umat beragama di Indonesia. Penyebabnya sepele yakni persoalan pengeras suara masjid dinilai terlalu besar, seorang wanita berinisial ML (41) beretnis tionghoa menegur warga lainnya (NM) tentang volume pengeras suara saat adzan terlalu besar.
Tak terima keluhan dari ML, NM bersama warga lain mendatangi rumah ML dan terjadi dialog panas menyoal permasalahan tersebut, penyelesaian buntu dan situasi kian memanas sehingga ML dan suaminya dievakuasi ke kantor Polsek Tanjung Balai. Setibanya di Polsek dilakukan pertemuan dengan pemuka agama, pejabat daerah, tokoh masyarakat, dsb. Di waktu bersamaan sejumlah elemen masyarakat dan mereka yang mengaku mahasiswa berorasi didepan Polsek Tanjung Balai namun dibubarkan polisi.
Setelah itu ada konsentrasi masa di sekitar rumah ML yang mendapatkan postingan ‘fitnah’ di facebook. Yang isinya sangat provokatif dan murni fitnah, bagai api dalam sekam akhirnya amarah sejumlah elemen yang mengaku bersorban itu membakar rumah ML. Tak puas sampai disitu, rumah ibadah ML yang berjarak 500 m dari rumahnya turut menjadi aksi amukan massa yang tak terkendali. Personil polres Tanjung Balai hingga kualahan menahan tindakan sporadis warga.
Ada apakah dengan bumi pertiwi? Kita sesama anak semua bangsa yang tinggal di sebuah negara yang berjanji berbangsa satu ini melakukan tindakan intoleran? Masyarakat yang dikenal ramah, toleran, sabar dan saling menghargai berubah secara diametral menjadi spontanitas dan buas. Apakah benar tindakan bodoh seperti perusakan diajarkan oleh pendidik di sekolah maupun agama? Aku bahkan tidak yakin kalian terpelajar dan bertuhan apabila dengan mahluk ciptaannya saja kalian tega menyakitinya. Cukuplah insiden ini menjadi yang terakhir kalinya diatas bumi ini. Dan buat kita semua termasuk saya, jangan sekali-kali mengkerdilkan kedudukan islam dengan aksi reaktif tanpa berpikir panjang, mau terlihat terkesan heroik tapi kelihatan bodoh dengan membakar vihara atau tempat ibadah agama lain.
Kalian bukannya membela agamamu tapi kamu telah menistakan dan menghinakannya. Kalian tau Rasullah SAW tidak membalas perbuatan kaum kafir yang melemparinya dengan batu saat tengah berdakwa, bahkan malaikat Djibril sampai-sampai menawarkan untuk melempar gunung ke kaum tersebut. Atau kisah pengemis yahudi buta yang tiap hari selalu mencaci Muhammad dan meludahinya? Apa yang diperbuat Muhammad? Ia malah menjenguknya setiap hari, menyuapi makan nenek itu dengan tangannya sendiri dan mendoakannya tanpa diketahui nenek tersebut.
Seluruh manusia perlu secara bijak dalam menjajaki perkara. Apalagi bentrok yang terjadi bukan sekedar permasalahan agama, namun lebih kompleks karena membawa etnis pula. Dalam kasus ini terjadinya penyelesaian secara diametral, sejumlah warga bertindak reaktif, provokatif, fitnah, bahkan cenderung menyalahkan pihak yang dirugikan. Menakar permasalahan ini juga perlu menganalisis persoalan yang ada dengan melibatkan berbagai stakeholder terkait. Diperlukan keterbukaan yang melibatkan semua stakeholder dan partisipatif.
Semoga hal-hal seperti ini hilang dari bumi manusia ini, sebagai masyarakat madani hendaknya bersikap bijak dalam berbagai persoalan. Tak perlu angkat sejata dan membabi buta untuk menyatakan supremasi. Manusia pada dasarnya mesti membaca persoalan dengan nuraninya, berfikir dengan nalar dan logikanya, lalu menginterpretasikannya lewat perbuatan. Karena sebagaimana manusia yang beragama dan terpelajar kita mesti adil sejak dalam pikiran.
Penulis adalah seorang mahasiswa aktif di Politeknik AKA Bogor
Sumber : www.rubrikkotanews.com
9/8/16