JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Berita Eksternal Recent Update

Mengapa Perempuan?

Untitled2Sebuah komunitas yang menggelitik ketika namanya didengar.

Komunitas Perempuan Bogor Anti Korupsi (KPBAK), turut hadir dalam “Bogor Community Day” yang diselenggarakan selama dua hari (19-20 September 2015) di Lippo Plaza Bogor. Perempuan-perempuan yang tersentuh hatinya ketika media banyak memberitakan tentang semakin bertambahnya kaum perempuan terjerat kasus korupsi seperti Angelina Sondakh dan Ratu Atut Chosiyah pada waktu itu, menggerakkan hati Hania Rahma seorang Dosen FE Universitas Indonesia untuk mengajak rekan-rekannya membentuk sebuah gerakan perempuan anti korupsi di wilayah Bogor. Tujuan pergerakan ini pada intinya adalah membentuk karakter perempuan sebagai benteng pertama pencegahan korupsi di Indonesia.

Februari 2014 ia diberi kesempatan mengutarakan idenya kepada salah seorang penyuluh masyarakat dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dua bulan kemudian (21/4) ibu Hania Rahma diundang dalam launching program KPK “Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK)”.

Pergerakan KPBAK hingga kurang lebih 19 bulan ini telah banyak melakukan sosialisasi anti korupsi terhadap masyarakat sekitar, sekolah-sekolah di Bogor dan mahasiswa dalam seminar-seminar anti korupsi yang tentunya sudah didukung penuh oleh KPK.

Car free day Bogor menjadi target pergerakannya terhadap anak-anak, komunitas ini mengajak mereka bermain dengan sebuah permainan ‘Semai’ (sembilan nilai), dimana permainan tersebut bukan mengajarkan anak kecil tentang anti korupsi tetapi lebih pada nilai-nilai kehidupan (kejujuran, kedisiplinan, tolong menolong,tanggung jawab dsb) yang harus ditanamkan anak-anak sejak dini karena menurut Hania hal ini lebih efektif dalam pencegahan tindak korupsi kepada mereka.

“seperti seorang anak yang meminta uang ketika hendak membeli buku di Sekolah dengan menyebutkan harga yang berlebih kepada ibunya sehingga sang anak mendapatkan kembalian uang yang cukup banyak itu merupakan tindak koruptif dalam keluarga” ungkap Hania. “Jika hal ini dibiarkan, jiwa koruptor akan melekat pada anak tersebut hingga dewasa” tambahnya.

Banyak tindak koruptif pada anak yang tanpa disadari adalah kelalaian peran orangtua dalam membimbingnya. Terlebih ibu, sebagai perempuan pada hakikatnya berperan penting dalam membentuk karakter bangsa, dimana perempuan dilahirkan sebagai :

  1. Seorang anak, berperan dalam mempengaruhi ayahnya untuk tidak melakukan korupsi ketika hendak memenuhi segala keinginan putri kesayangannya.
  2. Seorang isteri, yang menjadi faktor pendorong suami untuk mendapatkan uang lebih agar gaya hidup istrinya yang mewah dapat terpenuhi. Berdasarkan survey komunitas perempuan anti korupsi Indonesia bahwa 32% isteri tidak pernah menannyakan besar gaji suaminya, sehingga hal ini memicu suami dalam mendapatkan uang yang dikhawatirkan hasil dari korupsi.
  3. Seorang ibu, tentunya bertugas membentuk pola pikir atau karakter anaknya sejak dini agar terhindar dari tindakan-tindakan kecil dari korupsi.
  4. Seorang sahabat, karena banyak kita temui di dunia ini bahwa perempuanlah yang paling banyak menjadi tempat bercerita kisah hidup sahabatnya sehingga perlu memiliki pondasi untuk saling memotivasi menghindari korupsi untuk mengatasi persoalan hidup.

Itulah sebabnya selain perempuan dianjurkan untuk berpendidikan tinggi, perempuan harus benar-benar memahami tindakan korupsi dari hal kecil sekalipun dilihat dari pentingnya perempuan untuk membentengi diri dan keluarganya dalam pencegahan korupsi untuk Indonesia. (SHe/NN)