JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Berita Recent Update

Selalu Ada Pro dan Kontra

Picture2nkjDewasa ini, seperti kita ketahui segala hal yang dibicarakan khalayak ramai selalu berujung pro dan kontra. Sebenarnya pentingkah pro dan kontra itu sendiri? Pentingkah perdebatan itu sendiri?

Terlepas dari pro dan kontra, kemarin (18/6) Pekan Politik yang diselenggarakan mahasiswa AKA memperlihatkan kepada kita jika  mahasiswa AKA tidak hanya sekedar berbicara keilmuan eksak, namun juga dapat menuangkan aspirasi mereka melalui debat. Debat ini diharapkan mampu membuat mahasiswa AKA lebih kritis melihat permasalahan yang ada. Tidak hanya sekedar bicara yang tidak jelas, tapi mengkritisi sesuatu dengan dasar yang jelas.

Seperti motion yang disampaikan antara kelas 1B dan 1C, “Perlukah Mahasiswa Berpolotik?”. Perdebatan isu ini sangat panas antara dua kubu kelas ini. Kelas 1B yang pro terhadap isu menjelaskan bahwa mahasiswa ini merupakan The Agent of Change. Karena mahasiswa merupakan kalangan terpelajar yang diharapkan mampu menyampaikan aspirasi masyarakat dengan kritis. Berbeda dengan kelas 1C yang kontra terhadap isu ini. Mereka beranggapan bahwa mahasiswa itu tidak perlu berpolitik. Karena secara garis besar mahasiswa itu diamanahkan oleh Tri Dharma Perguruan Tinggi, untuk selalu fokus dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian.

Motion yang tak kalah hebohnya antara kelas 1A dan 2F, “Pergusuran PKL di Stasiun Bogor”. Menurut salah satu peserta debat ini, Nur Fitrya, alur debat yang kurang fokus membuat debat ini kurang greget. Menurut mereka dari kelas 2F, mereka kontra pada motion ini. Seperti yang diketahui, premerintah hanya merelokasi para PKL namun tidak memberikan solusi yang nyata. Mereka yang pro sendiri  1A memiliki pendapat lain mengenai pergusuran PKL di Bogor, mereka berpendapat bahwa pemerintah kota Bogor telah memberikan solusi yang tegas terhadap relokalisasi PKL di Stasiun Kota Bogor ini dengan memindahkannya ke pasar tradisional yang ada di Pasar Anyar.

Debat ini memang hanya lomba debat yang memang seharusnya ada dikalangan mahasiswa. Debat antara 1B dan 1C dimenangkan oleh kelas 1C. Sedangkan antara kelas 1A dan 2F dimenangkan oleh kelas 2F. Menang atau kalah hal yang biasa. Keberanian mahasiswa AKA untuk kritis dan berpendapatlah yang luar biasa pada Pekan Politik ini.

Suasana debat yang berbeda-beda disetiap sesi, selalu ada pro dan kontra dalam suatu isu yang dibicarakan masyarakat luas. Tidak hanya itu, kadang kala isu yang diangkat dikalangan masyarakat luas membuat masyarakat lupa akan tujuan Indonesia. Membentuk dua kubu yang terkadang bukan berbicara secara kritis dan sehat, namun terkadang lebih menjatuhkan lawan berbicara. Selalu masih butuhnya informasi politik untuk kalangan masyarakat luas, khususnya mahasiswa yang masih diharapkan untuk kritis terrhadap isu Indonesia dan dunia. (Chytra&Ira)